Difusi Inovasi

Riset difusi adalah penelitian proses sosial mengenai bagaimana inovasi-inovasi sosial ( ide-ide, praktik-praktik, objek-objek baru) menjadi di ketahui dan tersebar ke seluruh sistem sosial.

Peneliti dalam riset difusi yang paling tekenal dan paling di hormati secara luas adalah Everett Rogers. Beliau mengkaji hampir 4000 publikasi difusi untuk meriset teori tentang proses keputusan inovasi yang sebelumnya. Rogers mendefinisikan  inovasi sebagi “gagasan, praktik atau objek yang dipandang baru oleh individu atau unit adopsiyang lian.

Rogers memandang difusi inovasi sebagai”

“Proses sosial yang mengkomunikasikan informasi tentang ide-ide baru yang dipandang secara subjektif. Makna inovasi dengan demikian perlahan-lahan dikembangkan sebuah proses konstruksi sosial.

Advertisements

Symbolic Interactionism

Teori ini menjelaskan bahwa individu yang memberikan makna pada dirinya sendiri, berarti juga memberikan makna pada orang lain. Makna terbentuk melalui interaksi dengan orang lain. Artinya makna merupakan proyek bersama. Makna di negoisasikan dengan bahasa melalui interaksi. Simbolic interactionism adalah cara kita untuk menginterprestasikan orang lain.

Berikut merupakan penjelasan lebih rinci tentang Symbolic Interactionism menurut Mead ;

Self adalah proses yang tumbuh dalam keseharian sosial yang membentuk identitas diri. Perkembangan self tergantung pada bagaimana seseorang melakukan role taking (pengambilan peran) dari orang lain. Dalam role taking kita mengimajinasikan tingkah laku kita dari sudut pandang orang lain. Proses role taking sendiri bagi seorang anak kecil dilakukan melalui empat tahap sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Baik “I” maupun “me” keduanya diperlukan untuk melakukan hubungan sosial. “I” merupakan rumusan subjektif tentang diri ketika berhadapan dengan orang lain, sedangkan “me” merupakan serapan dari orang lain, yang melalui proses interanalisasi kemudian diadopsi untuk membentuk “I” selanjutnya.

Sehingga dengan demikian dalam setiap interaksi akan terjadi perubahan “I” dan “me” secara dinamis. Dalam konteks komunikasi, perubahan tersebut menimbulkan optimisme, yakni bagaimanapun komunikasi akan menimbulkan perubahan. Soal besar kecilnya perubahan dan seperti apa perubahan yang diinginkan itu tergantung pada strategi dan efektivitas komunikasi yang dilakukan.

Untuk memudahkan teman-teman dalam memahami Symbolic Interactionism saya berikan Contoh Kasus sebagai berikut :

Penggambaran adanya I, Me dan Self adalah kasus tentang Dewi Persik, yang terjadi beberapa waktu lalu telah mendapat kecaman untuk tampil di beberapa daerah oleh tokoh – tokoh masyarakat. Dalam penampilannya, Dewi Persik terkenal dengan pengdandut yang selalu mengenakan baju seksi serta amat terbuka, terbukti dia berkali – kali mengalami kasus kemben merosot, selain itu, Dewi Persik juga pengdangdut yang terkenal dengan goyangan yang seronok untuk penontonnya di layar televisi.

Dewi Persik belum kapok dengan terjadinya kasus kemben merosot, dia masih saja menggunakan pakaian – pakaian terlalu terbuka dalam aksi panggungnya, dan kejadian tersebut terulang berkali – kali. Pada saat terjadinya kasus tersebut Dewi Persik sedang melakukan interaksi dengan penonton dipanggung, dan pemirsa di televisi, sehingga berbagai kalanganpun kemungkinan sedang menonton acara tersebut wartawan, tokoh agama, masyarakat umum, berarti secara tidak langsung Dewi Persik melakukan interkasi dengan mereka melalui layar televisi. Menurut Teori Simbolic, makna terbentuk dan didapat melalui interkasi – interaksi dengan orang lain. Sehingga masyarakat luas dan wartawanpun memaknai Dewi Persik sebagai ”Penyanyi Kemben Merosot” . Dan Dewi Persik menjadi lengket dengan makna tersebut. Sehingga persepsi yang terbangun atas dirinya sebagai artis yang senang menggunakan pakaian – pakaian terbuka, karena image yang dibangun olehnya sendiri.

Sebagai ”I”, Dewi tetap yakin bahwa apa yang dilakukannya hanya sebagai tuntutan profesi kerja yang dia anggap hanya untuk menghibur penonton. Berikut contoh ungkapan dari dalam diri ”I” Dewi menanggapi kritik – kritik dari masyarakat yang diangkat di media ”Saya melakukan tuntutan kerja dalam profesi saya, bagaimana cara saya berpenampilan atau berpakaian adalah hak saya selama saya nyaman mengenakannya”. Anggapan tentang dirinya sendiri merupakan respon dan interprestasi dari hasil interkasi dengan orang lain dalam hal ini public.

Sebagai ”Me”, Dewi mengartikan atas penampilannya ”Saya hanya melaksanakan tugas sebagai seorang penyanyi, supaya tampil  tidak membosankan, saya akan selalu memikirkan bagaimana agar tetap nyaman pada saat tampil menghibur penonton dan penonton-pun juga terhibur oleh saya, pakaian atau kostum yang saya kenakan merupakan satu kesatuan dalam suatu penampilan dipanggung, kalau saya merasa nyaman otomatis aksi saya dalam panggung akan juga memuaskan”.

Karena Dewi merasa dalam gaya berpakaian adalah haknya, pakaiannya-pun semakin terbuka, banyak masyarakat luas yang mengecam akan penampilannya di televisi maupun beberapa daerah, hal itu juga disampaikan oleh beberapa tokoh – tokoh masyarakat dan aksi protes dari masyarakat yang ditayangkan di layar televisi.

Dewi Persik, menyadari dengan aksi – aksi yang dilakukan oleh masyarakat dan protes tokoh agama dan masyarakat yang ditayangkan di televisi, akan membentuk image dirinya yang lebih buruk lagi dalam mata publik. Dalam Diri Dewi Persikpun terjadi proses berfikir atau interkasi dalam bathin ”Apabila seorang Dewi Persik menentang beribu orang yang notabene adalah publik yang juga merupakan customernya dalam hal ini, maka kemungkinan banyak masyarakat yang akan menolak kehadiran saya di layar televisi, dan ini akan mengurangi tawaran menyanyi ditelevisi

Sejalan dengan gencar – gencarnya aksi protes dari masyarakat terhadap Dewi Persik, diapun mencoba mengerti atas apa yang menjadi problema dalam Publik terhadap gaya berpenampilannya, Dewi mencoba berfikir dari sudut pandang Publik yang memang masih sangat menjaga budaya ketimuran yaitu berpenampilan sopan tidak terbuka. Dalam berpenampilannya pun telah mengalami perubahan, pakaian yang sudah tertutup bila dibandingkan dengan sebelumnya, dan tidak over terbuka. Proses tersebut menggambarkan ”Self”, Dewi melakukan proses terhadap kejadian yang dialaminya, mengapa demikian, apa yang sebenarnya diinginkan oleh publik, apa yang melandasi publik melakukan protes – protes tersebut, Dewi berusaha berfikir dari sudut pandang publik, agar dia tidak dimusuhi oleh publik yang dalam hal ini adalah customernya, tetapi dewi berfikir agar justru disenangi oleh publik dalam setiap penampilannya.

Dalam ”Self”, Perkembangan self tergantung pada bagaimana seseorang melakukan role taking (pengambilan peran) dari orang lain dalam hal ini Publik. Role Taking kita mengimajinasikan tingkah laku kita dari sudut pandang orang lain. Dewi atau setiap orangpun akan mengalami proses ”Self”, untuk kelangsungan interaksinya di lingkungan tertentu.

Symbolic Interactionism ini, bisa membantu dalam proses memaknai pesan sehingga dapat lebih peka terhadap efek yang akan ditimbulkan untuk diri sendiri dan orang lain.

SOCIAL JUDGEMENT THEORY

Teori ini berbicara tentang pertimbangan atau penilaian seseorang terhadap suatu masalah atau pesan yang di terima. Teori mengatakan bahwa persepsi atau penilaian langsung seseorang terhadap suatu ide atau masalah. Di mana orang akan cenderung membandingkan dengan sudut pandangnya pada saat itu.

Contoh kasus

Ketika terjadi kerusuhan sosial tahun 1998 waktu itu terjadi kerusuhan dimana – mana dan saya bekerja di salah satu hotel di bilangan Jalan sudirman saya mendapatkan pesan – pesan baik dari televisi radio ataupun radio bahkan melihat langsung kerusuhan terjadi dimana – mana dan saya berasumsi bahwa kerusuhan di mana-mana dan pasti tidak ada kendaraan umum yang beroperasi dan sebaiknya tidak berangkat kerja karena situasi dan kondisi saat itu. ( di sini saya memasuki Lattitute rentang penerimaan).

Tetapi saya tetap berangkat kerja dan berjalan ke jalan raya untuk mencoba kemungkinan ada kendaraan umum yang tetap beroperasi , karena biar bagaimanapun mereka juga butuh makan dan minum dan mereka tetap beroperasi untuk mencari uang dan mencukupi kebutuhan sendiri – sendiri . Singkat kata saya terus berjalan dan akhirnya menemukan kendaraan umum dan bisa sampai ke tempat kerja dan melihat begitu banyak orang berkumpul di hotel karena mereka takut dengan kondisi yang ada dan mereka berlindung di hotel. (di sini terjadi rentang penolakan) secara umum dari informasi dan data yang ada di artikan pasti tidak ada kendaraan yang ada tapi kenyataanya ada juga .

Selanjutnya saya sampai kantor dan melihat bahwa kondisi jakarta sebagian terasa demikian mencekam dan terjadi huru – hara yang terus berlanjut. Yang akhirnya banyak karyawan hotel yang tidak masuk dengan alasan tidak bisa berangkat karena tidak ada kendaraan juga karena takut terjadi sesuatau di jalan karena sudah demikian brutalnya hal hal terjadi. Tidak hanya harta benda yang di jarah oleh orang – orang tetapi sudah ke nyawa pembakaran gedung – gedung dan jelas – jelas ada orang di dalamya bukti nyata bahwa nyawa juga terancam. Dan saya di suruh ama pimpinan saya untuk tidak pulang karena memang kekurangan karyawan untuk bekerja karena sebagian besar tidak masuk kerja saya di suruh masuk dengan hitungan lembur. Di sini saya Cuma diam sahaja dan saya merasa pasti sebenarnya banyak hal yang bisa di lakukan buktinya saya walaupun kerusuhan terjadi masih bisa datang ke kantor di sini saya memasuki Lattitude tanpa pertanyaan.

Saya akhirnya tetap bekerja dan saya menginap di hotel dan sudah di sediakan kamar khusus bagi karyawan yang tidak pulang karena mesti menggantikan karyawan lain yang tidak masuk hingga operasional hotel bisa terus berjalan walaupun tidak bisa berjalan normal seperti biasanya.

Expetancy Violations Theory

Merupakah Teori yang  menjelaskan tentang pemaknaan beradasarkan jarak. untuk memudahkan, berikut contohnya :

Ketika saya sedang ditest kesigapan tubuh, kesempurnaan tubuh dalam posisi tegak dan baris berbaris pada waktu melamar sebagai Polwan.

Jarak dari para polisi yang mengetest saya adalah 12 feet, yaitu sangat formal. Pada waktu itu, style berpakaian di tuntut mengenakan celana diatas lutut 4 cm, agar terlihat bentuk kaki dalam situasi tegap (apakah berbentuk O, V atau normal). Terdapat salah satu satu polisi menghampiri dan memperhatikan kami sampai jarak 2 feet dimana dalam EVT jarak ini adalah jarak personal. Kamipun merasa risih pada saat polisi itu menghampiri kami. Karena kami berfikir polisi tersebut sedang memanfaatkan situasi.

Setalah polisi tersebut mendekati, salah seorang teman saya, dan mengatakan ”Posisi kamu tidak bisa lebih tegap?”, sambil memperhatikan bentuk kaki teman saya dan ternyata bentuk kaki teman saya berbentu ”O”. Dari hal itu, ternyata polisi tersebut tidak sedang memanfaatkan situasi ternyata benar – benar ingin memperhatikan lebih detail kondisi fisik calon bintara Polwan.

Teori EVT mengatakan terdapat empat proxemics zones yaitu intimate, personal, social dan public. Masing – masing memiliki makna tersendiri.

Intimate distance 0 – 18 inches, biasanya seperti jarak antara suami istri atau kekasih, dalam hubungan mesranya.

Personal Distance yaitu 18 inches – 4 feet, biasanya untuk teman dan keluarga. Pada saat polisi menghampiri kami sampai berjarak 2 feet, kami merasa sangat tidak nyaman, apabila saya tidak dalam pegetesan saya harus menjauh dan pergi dari tempat itu.

Social Distance yaitu 4 – 12 Feet, ini lebih Resmi dibanding dari personal. Seperti pada saat melakukan test kesigapan tubuh, kesempurnaan tubuh dalam posisi tegak dan baris berbaris, pada saat melamar Polwan.

Public Distance 12 feet and beyond, jarak ini sangat formal seperti seorang pembicara dalam seminar bersama peserta seminar.

Bisa dipahami bukan? Bagaimana seharusnya memposisikan tubuh kita dalam waktu-waktu tertentu.

Relational Dialectics Theory

Theory ini menjelaskan suatu hubungan selalu mengandung kontradiksi yang mengalami perubahan dan dinamis dan diperlukan interaksi komunikasi yang berfungsi untuk merumuskan, mengatur dan menyelesaikan kontradiksi yang terjadi.

Contoh kasus :

Saya sudah berhubungan dengan kekasih saya selama dua tahun selama 2 tahun berhubungan ini saya sering terjadi hal – hal perbedan misalnya waktu kekasih saya bilang  dia merasa bahwa waktunya habis dan kebanyakan di lalui bersama, dia ingin berimbang untuk kedua orang tuanya tapi saya berpendapat lah dia buktinya masih banyak waktu ko bersama orang tuanya hari libur ama orang tuanya dan buktinya begitu. Dan ketemu dan bersama saya Cuma waktu setelah pulang kerja itupun Cuma 1 jam atau 2 jam. ( kemudian terjadi internal dialectics di diri saya aku kan bersama dia juga karena dia seneng dan sayang ama aku aku pun sebaliknya kalau dia merasa seperti itu salah aku kan begini bukti bahwa aku itu bener- bener sayang dan cinta kedia dan takut kalau ditinggal dia tahapan connedtedness ).

Dan pada suatu kesempatan kekasih saya memang melakukan tidak datang berduaan ke tempat saya tapi minta langsung pulang kerumah setelah bekerja dan saya suruh menghatarkan. ( Kekasih saya berfikir dengan begini akan terjadi berimbang karena dia bisa di rumah berkumpul dengan orang tuanya tapi saya berfikir merasa tidak nyaman dan kurang nyaman karena saya mesti bersikap formal ke kedua orang tuanya sedangkan saya pengenya santai. Disini masuk ke tahapan internal dialectis tahap certainty  – uncertanty dan adanya closedness)

Akhirnya saya terjadi obrolan dengan keluarganya ikut menonton tv dan juga ikut – ikutan bermain sama keponakanya yang waktu itu sendang datang kerumah menumpang menunaikan shalat dan juga makan di situ. Bebagai obrolan dari berita terkini sampai bola yang jadi favorit dari kekasih saya karena memang dia sangat seneng banget dengan yang namanya sepakbola. Apalagi kalau sudah berbicara mengenai team mancester united team kesanyanganya itu. Setelah beberapa lama kitapun bisa ngobrol lebih nyaman. ( Dear aku kurang merasa nyaman kalau begini terus waktu berduaan kita abis dengan aku mesti berkumpul dengan keluargamau mau gak mau aku gak bisa kasih perhtaian lebih ke dirimu tetapi lebih kekeluargamu kalau ini terus berlanjut jadi merasa gak nyama. Kekasih saya berargumen tapi dengan begini aku  kan bisa berbagi dengan keluargaku bisa berkumpul dan bisa sama- sama jadi hubungan kita kelihatan baik dimata kerluarga juga. Hal ini terjadi External dialectics Inclusion-Seclusion, Conventinal, Revelations-concelament dimana masing-masing sudah mengeluarkan apa yang ada dalam hati mereka selama ini dimana terjadi konflik dan tentunya dengan hal ini menjadi lebih terbuka satu sama lain dengan perasaan masing-masing tetapi sadar akan lingkungan mereka saat ini dan menyepakati akan keadaan dan dengan keberadaan masing-masing).

Dengan kejadian itu saya dan kekasih saya makin kuat berhubungan karena ternyata setelah diskusikan dan saya megerti apa maksud dari kekasih saya. Hubungan baik terjalin dan di keluargapun lebih ada kemajuan positif yang membuat citra positif bahwa saya bisa masuk di tengah – tengah keluarga kekasih saya. (terdapat Totality dan terjadi kemajuan dalam hubungan saya).

Suatu waktu saya melihat hp kekasih saya dan ada nomor telpon yang ternyata itu adalah mantan dia sebelumnya saya kesal dan merasa wah ini sudah penghianatan lah ko masih bertelpon ria padahal dia kan sudah jadi kekasih saya apa ini maksudnya semua? Kekasih saya kaget dan gak mau melakukan lagi tapi dia berargumen ;” dia hanya menyakan kondisi saya saja ko dan tidak macam – macam kalau macam- macam saya juga ndak mau dan akan aku putusin telponya.

(Di sini kekasih saya  melakukan Denial dan terjadi spiraling inversion dan segmentation satu sama lain dalam situasi konflik di atas dimana masing-masing menjadi lebih dominan dan saling mempengaruhi satu sama lain).

Kekasih saya minta maaf dan tidak lagi mau menerima telpon ke kasihnya dan sayapun juga minta maaf atas hal itu karena saya merasa cemburu jangan – jangan dia mau ninggalin saya.

Deception Theory (Teori Penipuan Antar Pribadi)

Dalam menjalani interaksi sosial kita dihadapi oleh berbagai macam kondisi yang sadar atau tidak, telah melibatkan diri kita kedalam apa yang dinamakan “Teori Penipuan Antarpribadi” oleh David Buller dan Judee Burgoon.
Proses menjalin hubungan, baik dengan pacar, teman, keluarga, pimpinan, ataupun guru/dosen tidak selalu mulus dan harus pandai mensiasati agar dapat menjaga hubungan yang telah terjalin baik sebelumnya. Contohnya dalam teori ini jelas mengemukakan tentang “Penipuan dalam beriteraksi Antar Pribadi”. Berikut adalah contoh – contoh simple kasus penipuan antarpribadi dengan kondisi yang berbeda – beda :

Contoh 1 : Tujuan penipuan adalah untuk mengamankan wajah atau membenarkan tindakan.
1 Putri adalah anak rumahan yang sangat jarang sekali keluar rumah kecuali untuk bekerja dan kuliah, diluar daripada itu Putri selalu ijin orang tua apabila ingin keluar rumah. Putri memiliki pacar bernama Beno. Suatu ketika sehabis pulang kuliah, putri dijemput oleh Beno tetapi kali ini tidak langsung pulang kerumah melainkan mampir dulu ke Mall untuk nonton film terbaru “Ketika Cinta Bertasbih”, karena tahu pasti tidak diijinkan apabila memberitahukan alasan sebenarnya maka putri memberitahu kedua orang tuanya dengan alasan “Mau mampir ke Mall untuk lihat – lihat buku di gramedia dulu”. Dan putripun bersama Beno mampir ke Gramedia dahulu sebelum nonton Ketika Cinta Bertasbih.

Contoh 1 (satu) tersebut adalah gambaran “Teori Penipuan Antar Pribadi” yang berjalan dengan tetap mengatakan kejujuran tetapi tidak menceritakan secara keseluruhan. Dalam teori penipuan antar pribadi biasa disebut Concealment (Penyembunyian).
Putri dapat juga memberi alasan “Ada Matakuliah tambahan sehingga pulangnya telat”. Teori penipuan yang dilakukan oleh Putri adalah Falsification (pemalsuan), jauh dari kenyataan yang sebenarnya.
Selain itu apabila putri ingin memberikan alasan yang meyakinkan dan tidak ingin terlihat adanya suatu penipuan atau tidak ingin terjadi kebocoran (Pengelakan), Putri bisa saja memberikan alasan yang tegas seperti “Pulang kuliah kali ini agak telat ya mah..daghh !”.

Contoh 2 (dua) :

2. Citra dan Robi saling menyukai satu sama lain, namun keduanya masih malu untuk saling mengakui perasaan masing – masing karena baru saja kenal. Tetapi ada saja alasan yang menjadikan mereka saling berinterkasi satu sama lain. Suatu ketika Robi ingin meminjam Novel “Ketika Cinta bertasbih” milik citra padahal Robi juga baru saja beli kemarin sore. Pada keesokan harinya tak diduga Citra menemui Robi diruang kerjanya dan melihat ada dua Novel “Ketika Cinta Bertasbih” dimeja Robi, spontan Citra bertanya “Ko ada dua novelnya, yang satu punya kamu yah…?”dengan penuh curiga. Dalam hal ini Robi bisa saja memberi alasan berbagai macam.

Contoh 2 (dua) tersebut adalah kondisi yang membutuhkan Teori penipuan agar Robi tidak terlihat bahwa dia hanya mencari alasan saja agar tetap bisa berinterkasi dengan Citra sehingga bisa membuat Robi malu dimata citra . Robi bisa saja berbohong melakukan Falsification (Pemalsuan) dengan mengatakan “Itu bukan punyaku melainkan punya si Romi tadi dia pamer bahwa dia juga punya novel bagus ini, eh malah tertinggal dimejaku”.
Atau Robi bisa saja mengatakan “Oh iya itu punyaku merasa tertarik jadi aku beli kemarin, itu novelmu mau aku balikin, kebetulan kamunya kesini”, dalam kondisi ini Robi masih mengatakan kejujuran tetapi tidak keseluruhan Concealment (Penyembunyian), Robi memang baru beli novel kemarin (tetapi tidak dijelaskan kemarin kapan), dan novel milik Citra spontan langsung dikembalikan agar tidak terjadi kebocoran.
Terakhir Robi dapat juga mengatakan secara tegas kepada citra “Iya, aku baru beli di mall kemarin”, pernyataan tersebut merupakan suatu Equivocation (Pengelakan) untuk menghindar dari penceritaan yang lebih detail.

Contoh 3 (tiga) : Tujuan Penipuan untuk menetapkan atau memelihara suatu hubungan yang baik dengan responden.

3. Sinta dan Ratih adalah teman akrab satu kelas. Namun entah kenapa Ratih sangat tidak menyukai teman sekelas mereka yang bernama Nisa, tetapi tidak dengan Sinta. Suatu ketika Nisa curhat dengan Sinta tentang sikap Ratih yang selama ini membuat dirinya sedih, tanpa disadari oleh mereka, Ratih mengetahui bahwa mereka sedang berbicara serius, dan tentu saja menimbulkan rasa penasaran Ratih terhadap apa yang mereka bicarakan. Dan menanyakan langsung kepada Sinta. Sinta aku tadi melihatmu sedang berbicara serius dengan Nisa, apa yang kalian bicarakan?.

Alasan apa yang harus diberikan oleh Sinta kepada Ratih agar pertemenan dengan Nisa maupun Ratih tidak terusik?. Pertama, Sinta dapat mengatakan kepada Ratih secara jujur namun tidak menyeluruh, “Nisa hanya menanyakan tentang sikapnya apakah selama ini ada yang salah sehingga membuat dirinya merasa tidak disukai”. Kedua, Sinta mengatakan pemalsuan, “Nisa hanya menanyakan tentang kisi – kisi ujian yang akan keluar besok, sebab kemarin dia gak masuk”. Ketiga, Nisa berkata tegas dan berdalih “Nisa curhat tentang dirinya aja kok!”.

Nah, pemahaman tentang teori ini memudahkan dalam pergaulan baik dalam lingkungan akademis maupun non akademis, tujuannya adalah agar mampu berkomunikasi dengan baik untuk menjaga hubungan dengan siapa saja.

Bicara Pintar

Komunikasi merupakan kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu seiring dengan pertumbuhannya, sama seperti kemampuan berjalan dan kemampuan mempelajari segala hal. Namun, kemampuan komunikasi belum tentu memahami komunikasi.

Memahami komunikasi berarti memahami apa yang terjadi selama komunikasi berlangsung, mengapa itu terjadi, akibat-akibat apa yang terjadi , dan akhirnya apa yang dapat kita perbuat untuk mempengaruhi dan memaksimumkan hasil-hasil dari kejadian tersebut[1]. Dalam kesehariannya seluruh aspek kehidupan membutuhkan komunikasi, sehingga untuk mencapai keberhasilan komunikasi harus memiliki porsi yang penting. Mengapa demikian?, karena setiap tujuan di dalam rencana seluruh aspek kehidupan dapat terlaksana dengan cara mengkomunikasikannya, bayangkan jika kita kurang pandai dalam berkomunikasi, kemungkinan besar tujuan dari rencana tersebut bisa gagal atau kurang maksimal hanya karena tidak  berbicara pintar.

Contohnya apabila tidak mampu berkomunikasi adalah sebagai berikut ; meskipun ia seorang arsitek yang cerdas atau akuntan yang brilian,  mungkin saja tidak diterima kerja karena gagal dalam menjual dirinya dihadapan pewawancara. Contoh lain seorang manager diberhentikan karena ia tidak bisa membina hubungan dengan para bawahannya melalui komunikasi, seorang diplomat gagal meyakinkan negeri tempat ia ditugaskan karena ia bukan hanya tidak persuasif bahkan tidak menguasai bahasa setempat secara optimal. Bahkan seorang peneliti yang sepanjang tahun bekerja di sebuah laboraturium  terpencil pun bisa gagal kalau ia tidak mampu mengkomunikan temuannya dalam seminar atau tulisan di media cetak.[2]. Sedangkan bila melihat Wimar Witoelar yang pandai berbicara sebagai moderator di berbagai talkshow, Tina Talisa yang mampu memandu dan menggiring suasana yang seru, ramai serta membawa para narasumbernya untuk membahas suatu permasalahan yang sedang up to date, atau Tukul yang mampu mengkomunikasikan kekurangannya menjadi kelebihannya, dengan bermodalkan lihai atau pandai dalam berbicara mereka mampu meraih kesuksesan. Itulah penjelasan mengapa komunikasi mendapat porsi yang sama pentingnya dengan ilmu-ilmu yang ada. Kemampuan komunikasi memang dimiliki oleh siapa saja, tetapi untuk berbicara pintar tidak akan dimiliki oleh setiap orang kecuali orang tersebut mau menggali potensi kemampuan berkomunikasinya.

Oleh karenanya, Blog ini concern dengan hal-hal yang berkaitan dengan komunikasi dari berbagai aspek dengan tujuan agar para pembaca blog ini dapat Berbicara Pintar. Penulis akan membahas tentang teori-teori komunikasi dan hal yang berkaitan dengan komunikasi, disertakan juga contoh real yang ada, dengan demikian diharapkan para pembaca mudah dalam memahami dan dapat menarik makna dari Materi Blog yang bertemakan Bicara Pintar.


[1] Mulyana, Deddy. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya). 2002. hlm. ix

[2] Ibid hlm x